perjuangan sang ibu penjual buah

perjuangan penjual buah lentera zaman 1“Tasik eling kale kulo bu?”, “tak engak engkok!”

“Masih ingat sama saya bu”, “saya tidak ingat!”

Alhamdulillah, setelah hampir satu minggu punya hutang ke ibu tersebut. Sekarang aku bisa melunasinya. Saat itu aku membeli mangga. Tawar-menawar terjadi, manggapun sudah dibungkus dan ditimbang. Tiba waktunya membayar, ternyata dompet di tasku tidak ada. Aku hubungi istri via hp, dia bilang dompetku ada di tas lemari. Ya … sedikit malu bilang ke ibu tersebut tidak jadi beli karena uangnya tertinggal. Bawa saja Pak, tidak apa-apa!” kata ibu paruh baya dengan Bahasa Madura. “Tidak Bu, tidak enak saya”, “Ya … tidak apa-apa, di sini sudah biasa begitu”.

perjuangan penjual buah lentera zaman 1

Sambil duduk di salah satu kursi, Aku ambil sebuah mangga dan mencicipinya. Sembari itu tawar menawar harga buah mangga Mana Lagi. Setelah harga cocok, mulailah ku bungkus 30 buah. Tiba-tiba datang anak perempuan yang tak lain adalah putri ibu tersebut. Dengan Bahasa Madura yang khas, Si Ibu bertanya kepada anaknya, “Kamu dari tadi ke mana saja?”. “Kerja kelompok!”. “Kerja kelompok di rumah kan bisa!”. Sambil semakin tinggi suara Si Ibu melajutkan rasa tidak puasnya, “Kerja kelompok kok sama anak laki-laki, kamu saya nikahkan tidak mau?”. Wajah Si Anak hanya kelihatan masam dan mengekspresikan wajah tidak suka.

Usai membungkus 30 buah mangga, ku hampiri ibu yang sedang merah padam wajahnya itu. Sambil memberikan uang aku sapa dia, “Zaman sekarang hati-hati punya anak perempuan Bu! Pergaulan anak muda sekarang mengkuatirkan”. “La iya, kalau tahu gitu tidak saya sekolahkan saja” sahutnya dengan kesal.

Saat aku ke luar dari toko tersebut, Si Ibu mengekor aku. Bersamaan itu berhentilah sepeda motor dengan  dua anak perempuan seusia putri ibu tersebut bertengger di atas motor tersebut. Dua cewek tersebut kelihatan modis, membawa tablet, dan sesekali sibuk dengan membetulkan rambutnya. “Ini dia temannya yang selalu ajak-ajak” sepontan kata ibu dibelakang saya. Saya lemparkan senyum ke ibu yang berwajah masam sebagai tanda pamitan.

Dalam perjalan pulang, tetap terngiang-ngiang di otakku. Penyakit yang menakutkan sekarang bukan kebodohan karena tidak bisa membaca dan menulis. Namun jauh lebih ngeri adalah narkoba dan sex bebas. Globalisasi yang bermuatan liberal membuat orang tua wali murid yang berpengetahuan di bawah rata-rata harus kewalahan menangani anak-anak mereka yang ingin serba berubah dan jelakanya perubahan ke arah negatif.

Narkoba di kota kecil kami tidak sebegitu signifikan seperti di kota-kota besar. Namun beredarnya film porno melalui internet dan HP benar-benar masuk ke rumah, dapur, bahkan kantong baju  seragam siswa. Di tambah tayangan film, senetron, lagu, dan cerita yang mengangap pacaran dan se bexbas adalah hal yang biasa saja membut semua tambah runyam.

Solusi terbaik menurut kami adalah tidak membiasakan siswa untuk membawa hp dengan fasilitas multi media. Televisi di rumah dinyalakan pada jam-jam tertentu atau kalau bisa tidak usah memiliki televisi (seperti di rumah kami). Internet untuk anak usia SD dan SMP harus di awasi dan  bimbingan orang tua. Guru tidak memberi tugas rumah yang memberi kesempatan anak berinternet ria, memfasilitasi di sekolah dengan internet bebas pandang. Orang tua dan guru memberi teladan tidak melihat situs jorok. Orang tua dan guru melarang siswa berpacaran (tentang pacaran kita bahas lebih jauh di posting berikutnya).

Bagai mana menurut Anda, apa yang Anda fikirkan?

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: