pelajaran di balik baju yang basah

“bajunya basah, dia tetap bertahan demi rezeki hari ini”

kedelaiHujan sejak Ashar tadi menguyur kota kecil Lumajang. Sudah sejam yang lalu sholat Isya’ berlalu. Gerimis sekali-kali masih berjatuhan menambah dingin kota tapal kuda ini. Jika teringat Subuh tadi, awan tebal menyelimuti kotaku hingga bulan tanggal 15 jawa nampak suram. Ternyata ini jadinya. Hujan yang berkepanjangan

Ingin hati membeli sari mengkudu di toko obat yang biasa saya datangi. Eh, ternyata tutup. Terbesit ingin lihat kondisi alun-alun. Ku arahkan sepeda angin menuju alun-alun kota, teman setiaku untuk menghemat BBM sekaligus berolahraga. Sepi-senyap dan dingin sepanjang alun-alun. Terlihat pintu gerbang rumah wakil bupati terbuka lebar. Satpol PP yan bertugas kelihatan santai di posnya. Sepanjang jalan alun-alun hanya terlihat satu dua pasang muda-mudi yang masih bertahan di malam yang dingin (mengungdang bencana kali … red).

penjual jagung rebusLaju sepeda terus ku kayuh, jalan sebelah utara alun-alun masih terlihat penjual cilok, jagung, dan kedelai mengadu nasib demi anak istri di rumah. Ku rapatkan sepeda ke salah satu penjual jagung dan kedelai. “jagung apa kedelai?”, sapa penjual dengan bahagia. “kedelai Pak”, kataku. “5 ribu ya?”, sahutnya. “Heeee …. Heeee … 2 ribu saja tidak ada yang makan Pak”, kataku. (ya … uqbah, umik, dan nenek sudah tidur di rumah)

Panjual itu langsung mengambil tas pelastik dan memasukkan 3 ikat kedelai ke dalamnya. “saya beri tiga”. Saya tahu 1 ikat harganya seribu, si penjual berbaik hati menambah satu ikat. “Dimana rumahnya Pak?”. “Grati, Pasuruan”. Dalam hati terbesit “jauh sekali rumahnya, jarak Lumajang-Pasuruan bisa ditempuh 3 jam naik bus”. Sahabat Lentera Zaman, Dia hanya naik sepeda ontel onta yang sudah tua looo ….. LUAR BIASA perjuangannya untuk mendapat rezeki demi anak dan istrinya.

Ku julurkan uang 5ribuan. Kemudian dia memberi kembali 3ribu. “terima kasih Pak” katanya. Sambil mengambil kembalian dan kedelai dalam tas kresek. Aku baru ingat mempunyai uang 5ratus receh disaku. Sambil berpamitan aku berikan uang 5ratus receh ke padanya. “Wah, dia senangnya mint ampun” bahkan ingin menambah satu ikat lagi. “terima kasih pak, tidak usah” seger aku melarikan diri takut orangnya memaksa.

Dalam perjalanan pulang, saya berfikir pelit sekali aku. Dia saja mau memberi satu ikat kedelai seharga seribu rupiah. Aku cuman memberi uang receh. “Kenapa uang kembalian tadi saya terima?”, Gemuruh hati karena merasa pelit.

Pelajaran buat saya, perjuangan hidup yang luar biasa dari penjual jagung dan kedelai. Saya sebagai guru kadang cuman malas-malasn bekerja, padahal cuman di dalam kelas yang dingin. Si Bapak penjual jagung berselimut malam dan hujan yang dingin. Dia tetap GAGAH dan tak MENGELUH dengan keadaanya. BANGGA dan SUNGGUH-SUNGGUH dalam kerjanya.

Oh iya sob … bajunya tadi saya lihat lusuh warnah putih kecoklatan dan BASAH terkena hujan. KASIAN betul si BAPAK, SEMOGA ALLAH MEMULIAKAN BELIAU. Amiin. (do’akan juga ya sob … jazakallah)

  1. #1 by Khamim Babat on 27 2013, 2013 - 12:25

    trims

    ________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: