Tamu Istimewa Sore Ini

Tamu Istimewa Sore Ini

Siang terus diguyur hujan, entah berapa ribu liter air yang sudah jatuh ke bumi. Sore ini hujan juga terus menetes. Bersama Uqbah, saya nikmati suasana sore yang ditutup mendung serta dihiasi aliran air di selokan-selokan. Duduk di depan rumah pilihan yang tepat (ma’af rumah kontrakan, baru pindah dari kontrakan lama heee … heeee…).

Tiba-tiba dari jalan sebelah musholah tepat di depan kotrakan, ada seorang tua renta tertawa sambil malu-malu. Saya perhatikan dari gerakan bibirnya dia mengatakan hujan turun. Ya, pak tua penjual “tempeh” memohon untuk minta tempat berteduh. Dengan senang hati saya mengutusnya duduk menenami kami di kursi yang sudah berkarat milik ku.

Setelah menaruh barang yang dia pikul, berlahan dia duduk di samping kami. Terlihat bajunya lusu, kancing celana yang sudah copot, bibirnya tampak kering, dan letih nampak jelas di wajahnya. Tak tega rasanya melihat dia seperti itu.

Istriku kemudian membuatkan minuman teh hanggat. Alhamdulillah, kami saat pulang dari ngajar sempat beli pisang yang bisa kami buat untuk membantu beliau menganjal perutnya dengan pisang goreng.

Sambil nunggu hujan reda, beliau bercerita tentang keluarganya. Tinggal bersama istri dan dua anaknya di ujung Lumajang sebelah barat, lereng gunung menuju tengger. Dua putranya ada di Malaysia, dan putra pertamanya sudah meninggal. Hari ini, tempehnya sudah laku 2, satu tempeh seharga 7 ribu rupiah. Dia bilang hasil penjualannya digunakan makan siang tadi. Sebagian disimpan buat perjalanan.

Dia berjalan menyusuri kota Lumajang dengan berjalan kaki selama kira-kira satu minggu hingga tempehnya habis. Tidur biasanya di pasar tempat dia mangkal atau di depan toko-toko saat dia kemalaman.

Tidak tega rasanya mendengarkan ceritanya. Maka saya beranikan setiap ada tetangga yang lewat depan rumah, saya coba bantu menawarkan barang beliau. Tak satupun tetangga yang beli. Untung istri juga lagi butuh tempeh.

Perjuangan yang tak mengenal lelah dari sang bapak tua dengan kopiah hitam yang sudah lusu. Beliau bilang demi keluarga di rumah, tidak apa-apa meski seperi ini.

Hati kecil ingin sekali membantunya, kemudian saat beliau mau berpamitan. Saya mencoba untuk memberi kaos (ma’af bukan bermaksud aneh-aneh), namun dia melihat ada gambar di kaos tersebut dan tidak berani menerimanya karena takut ada apa-apa katanya (beliaiu buta huruf). Padahal gambar itu cuman logo kabupaten Lumajang. Setelah kami ganti dengan sarung, betapa senangnya beliau. Hal yang kami bahagia adalah saat saya berani mengatakan jangan lupa dengan sholat. Dia tersenyum dan menyetujui. Tambah bangga lagi saat beliau mulai mengangkat barangnya, mengucapakan Assalamualikum … meskipun dengan kata yang salah.

Semoga Allah memuliakan Engkau wahai Bapak Tua yang terus berjuang menerjang angkuhnya zaman. Semoga lentera zaman terus memberikan engkau cahaya yang lurus di jalan-Nya. Semoa Allah masih mengijinkan kita bertemu lagi ….

(15.00 ; 03 februari 2012)

Kami Tunggu Kehadiran Anda Selanjutnya”

Recent Posts :

, , , , ,

  1. #1 by andry on 2 2012, 2012 - 11:52

    inspiratif, mengajak orang lain mengikuti jejak anda

  2. #2 by agus on 16 2012, 2012 - 14:41

    kisah yang bagus penuh inspirasi…betapa kita harus lebih bersyukur!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: