Amin Dibalut Asap Mematikan

Amin dibalut Keluarga dengan Asap Mematikan

Badannya kurus, wajahnya pucat, bibirnya sering kelihat pecah-pecah, tubuh agak bungkuk, padangan matanya sayu, anak yang cenderung pendiam, dan dari keluarga yang berstatus ekonomi di bawah rata-rata UMR. Itulah Amin, salah satu murid saya di SD tempat saya mendidik.

Sebenarnya Amin sudah sering tidak masuk. Seperti minggu ini. Sejak Senin Amin tidak masuk sekolah. Dapat kabar dari teman Amin, sakit sesak nafasnya kambuh lagi. Kamis kemarin rencana saya dan beberapa siswa akan menjenguknya. Namun selalu tertunda, karena saat itu hujan terus melanda. Maklum sekolah tempat saya mengajar di sekitar lereng gunung semeru dengan curah hujan yang tinggi.

Baru hari Sabtu sepulang mengajar, sekitar pukul 12.15 saya berkunjung ke rumah Amin dengan ditemani Yusuf salah satu murid kelas VI juga. Setibanya di rumah Amin, saya disambut kakak Amin usianya sekitar 20 tahun. Setelah mempersilahkan duduk, kakak Amin menaruh seuatu benda di atas meja dan mempersilahkan saya untuk menikmatinya. Sambil berbicangan ringan tentang Amin, kakak Amiin tak henti-hentinya menikmati asap yang dia hirup dan dikeluarkan ke udara.

Selang sekitar 10 menit ayah Amin datang dari musholah. Beliau ramah sekali, bahasa jawa halusnya amat kental. Kakak bergegas pergi saat Ayahnya datang. Mereka mempersilahkan saya masuk ke ruang dalam sambil melihat kondisi Amin. Tak lama kemudian, ayah Amin meletakkan kembali suguhan seperti yang diberikan kakak Amin tadi. Bukan itus saja, disebelah bungkusan itu ada tempat pembuangan putung rokok yang warnya sudah hitam basah entah berpa banyak potong rokok yang penah hingga di situ. Dengan halus saya menjawab “Ngapunten pak, kulo mboten Ngeces!” (ma’af pak saya tidak merokok!).

Setelah ngobrol panjang lebar tentang kondisi Amin. Untuk terakhir kalinya saya sampaikan pada Ayah dan kakak Amin agar tidak merokok di dalam rumah. Pada awalnya beliau bersitegas pernah ke puskesmas dan memeriksaakan paru-paru dan jantungnya. Kata dokter tidak ada masalah dan baik-baik saja. Dengan alasan itu maka Ayah Amin menyimpulkan bahwa tidak ada hubungannya merokok dengan sakit paru-paru. Termasuk penyakitnya Amiin.

Kemudian dengan hati-hati saya jelaskan bahwa asap rokok bagi pemakai memang tidak ada masalah selama dia masih menghisap rokok. Namun setelah bertahun-tahun maka dampaknya akan terasa. Yang paling bahaya adalah bagi perokok pasif kayak Amin. Asap yang dihirup dengan tidak sengaja akan sangat mempengaruhi paru-paru dan kesehatan mereka. Apa lagi seperti Amin yang punya bibit sesak nafas. Alhamdulillah, ayah Amiin bisa menerima dan berjanji untuk merokok di luar rumah.

Sahabat, semoga kita sadar bahwa merokok sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu katakan SAYA TIDAK AKAN MEROKOK. Demi kita, anak-anak, saudara, dan masa depan anak bangsa yang sehat. Apalagi bagi sahabaT AYO MENDIDIK (guru-guru negeri ini). Buangalah rokok Anda mulai sekarang dan jadilah teladan GURU YANG SEHAT.

Kami Tunggu Kehadiran Anda Selanjutnya”

Recent Posts :

About these ads

, , , ,

  1. #1 by agus on 16 2012, 2012 - 14:56

    alhamdulillah saya juga tidak merokok..! semoga para pecandu rokok membaca artikel ini dan mulai sadar akan kebiasaan buruknya.

  2. #2 by adelays on 29 2012, 2012 - 01:44

    alhamdulilah.. saya bukan perokok…. terima kasih telah juga menyarankan pada umum untuk tidak merokok. :)

  3. #3 by kawanlama95 on 25 2012, 2012 - 09:14

    Saya tidak merokok , para pecandu rokok sebenarnya bisa berhenti.dengan niat kuat maka rokok bisa di hentikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: