tiap tahun IDUL FITRI, MEMBOSANKAN!!

tiap tahun IDUL FITRI, MEMBOSANKAN!!

M

alam takbir  merupakan momentum yang ditunggu-tunggu. Saat terdengar kumandang takbir “Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … laa ilaaha illallahu allahu Akbar …Allahu Akbar wa lillahil hamd” sepontan seluruh saraf seolah terasa bergetar, tubuh mulai merinding. Hati betul-betul dipenuhi rasa tentram yang tidak tahu dari mana asalnya. Jiwa penuh dengan keinginan untuk larut bersama anggota keluarga yang lain. Saling bercerita, saling berbagi, dan saling melepas rindu karena lama tidak bertemu. Buliran waktu tak terasa hingga larut malam dalam dekapan kemenangan ramadhan dan menyambut hari nan fitri esok hari.

Kerinduan tersebut terus menjadi kerinduan. Suasana hangat itu selalu aku idam-idamkan sejak dulu. Bahkan sampai terbawa mimpi dalam malam kemenangan. Hampir setiap selesai menjalankan ibadah puasa  Ramadhan sebulan penuh dan menyambut malam takbir, suasana hati selalu takut dan gemetar. Beribu rasa pesimis dan malas selalu menjalar di dada. “Keakraban keluarga itu tidak akan aku dapatkan sampai kapanpun” bisik dalam hatiku. Semuanya hanya fatamorgana yang akan segera hilang saat aku menghampirinya.

Seperti malam-malam takbir sebelumnya, malam inipun, saat aku membutuhkan keluargaku, aku harus menghisap jari untuk kecewa. Maklumlah, apa daya keluargaku tidak mampu. Kami  sangat sederhana dalam ekonomi, bahkan cenderung kekurangan. Setiap malam takbir, selesai sholat magrib ayahku harus berangkat untuk mempersiapkan diri berjualan di tempat wisata. Beliau pulang larut malam bahkan menjelang pagi hari saat kami sudah tidur lelap dalam penantian. Sebenarnya aku ingin bersamanya, saling berbagi cerita, sambil mendengarkan lantunan takbir kemenangan. Tiap kami meminta beliau selalu menolak. Akhirnya, kami hanya bisa duduk di serambi rumah dalam sunyi kesendirian di rumah. Saat merasa jenuh, aku masuk kamar untuk berbaring dalam khayalan keluarga ideal seperti dalam impian. Kadang terlintas dalam benak untuk ke luar rumah menuju ke keramaian kota. Ikut bersama atau sekedar nonton arak-arakan motor. Namun hati kecil menolak karena itu bukan jalanku. Akhirnya akupun terbawa lamunan yang berujung pada mimpi.

K

eesokkan harinya, kami bersiap-siap untuk berangkat sholat Id bersama. Ayah sering bangun kesiangan karena tidur sudah larut malam atau bahkan tidur pagi hari. Sedang ibu sering bertepatan tidak sholat. Akupun harus berangkat sendiri berjalan kaki menuju masjid di desaku. Tidak seperti mereka yang selalu bersama keluarga berangkat ke masjid bersama-sama. Semakin sedih hati ini. Sepulang dari masjid  kami berkumpul sebentar, segera aku mencium kedua tangan orang tua. Rasa haru itu muncul dengan tiba-tiba, tanpa diundang berlinang air mata. Hanya ini kebahagiaan yang aku dapatkan setiap tahun di Hari Nan Fitri. Hanya sekejab bersama mereka.

Kebehagiaan itu segera lenyap. Karena ayah dan ibu segera mempersiapkan diri untuk berangkat jualan di tempat wisata.  Suasanapun begitu sunyi saat beliau berdua berangkat. Setiap saudara yang hadir ke rumah harus kecewa karena ayah dan ibu tidak ada. Bahkan karena tiap tahun ayah dan ibu tidak di rumah, tidak ada lagi yang berkunjung ke rumah. Semakin menambah kegundahan lebaran. Kue yang kami siapkan tetap utuh, karena  tidak ada yang memakannya. Hari-hari lebaran ku jalani dengan kesendirian di rumah. Ingin rasanya ke luar. Namun keterbatasan ekonomi menjadi benteng yang kuat dan tinggi memaksa aku harus takluk hanya bisa duduk di depan televisi, melamun di serambi, dan duduk di depan rumah melihat orang lalu-lalang di jalan.

Demikian hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga tahun ke tahun berikutnya. Tidak ada yang spesial bagi saya di Idul Fitri. Hingga akhirnya Allah berkehendak lain. Sejak setahun yang lalu aku tidak tinggal bersama mereka, karena setelah menikah aku putuskan tinggal di kota agar lebih dekat dengan tempat kami bekerja.

A

lhamdulillah, 2 tahun ini Allah sudah memberi kasih sayang-Nya. Ekonomi keluarga orang tuaku sudah membaik. Mereka sudah tidak lagi berjualan di tempat wisata. Ayah dan ibu sudah memiliki usaha lain sehingga ramadhan dan lebaran mereka bisa ada di rumah. Saat saya mudik dan liburan di sana, ayah dan ibu berada di tengah-tengah kami, bahkan malam takbirpun bisa kami hayati sambil menikmati makan ketupat, lepet, dan opor ayam bikinan ibu. Saat tidur kami bisa bermimpi indah dari pada tahun lalu. Lamunan-lamunan itu kini jadi kenyataan. Keesokan harinya kami bisa bersama-sama, berkeliling tetangga untuk silaturahmi. Bahkan, lebaran ini lebih menyenagkan. kami bisa  mencari ikan  di kolam saudara untuk dibakar dan disantap bersama-sama. Berkunjung ke keluarga yang lama tidak terkunjungi. Puji sukur kehadirat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena sudah mengabulkan do’a saya dalam kesendirian saat hari Raya Idul Fitri yang membosankan. Kami semakin yakin dengan janji Allah, Bahwa Allah akan memberikan kehidupan yang berkecukupan dan memudahkan setiap kesulitan bagi setiap hamba-Nya yang beriman”.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog pesona muslim

FOTO SAAT LEBARAN BERSAMA SAUDARA :

  1. #1 by Pesona Muslim on 18 2010, 2010 - 16:57

    Postingan yang Indah(Tim Penilai Pesona Muslim)

    • #2 by bchree on 19 2010, 2010 - 08:12

      terima kasih atas penilaiannya. semoga ada manfaatnya.amiin

  2. #3 by 'Ne on 17 2010, 2010 - 20:59

    wah jadi ini kisah asli ya hehe.. syukurlah sekarang keadaan sudah membaik dan semoga selalu berbahagia bersama keluarga..🙂

    • #4 by bchree on 18 2010, 2010 - 10:36

      iya mbak ini aku alami saat duduk di sekolah dasar sampai sekolah tingkat atas (sma) ….. terima kasih do’anya, Amiin

  3. #5 by kangmas ian on 17 2010, 2010 - 06:06

    oh lagi lomba yaa..koq banyak poto2 narsisnya wkwkw

    • #6 by bchree on 18 2010, 2010 - 10:29

      jadi malu nih ditertawakan mas ian …. tambah minder niiii gue

  4. #7 by Red on 17 2010, 2010 - 02:44

    sesuatu yg dikerjakan berulang2 menjadi rutinitas yg agak membosankan, tapi ketika ada nuansa lain yg datang, yg rutin itu justru dinantikan dan diharapkan kedatangannya. sobat mesti bersyukur dapat merasakan kenikmatan ini bersama keluarga tercinta, nanti akan tiba saatnya kita tidak dapat lagi merengkuh kenikmatan ini dan berpikir alangkah bodohnya saya dulu menolak rutinitas yg saya anggap menjemukan🙂

    • #8 by bchree on 18 2010, 2010 - 10:28

      bagus sekali cara berfikir mas red, trims pencerahannya

  5. #9 by Asop on 16 2010, 2010 - 22:44

    Maap lahir batin, Mas.🙂

    Moga di tahun depam kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan ramadhan lagi. Amin! ^__^

    • #10 by bchree on 18 2010, 2010 - 10:27

      mudah-mudahan mas, biar kita bisa lebih meningkatkan kualitas iman kita. Amiin.

  6. #11 by mama iin on 16 2010, 2010 - 21:26

    artikelnya sangat bagus..semoga dapat meraih juara dalam lomba blog pesona muslimnya…kan enak dapat domain gratis…bisa tambah keren blognya

    • #12 by bchree on 18 2010, 2010 - 10:26

      amiiiiiiiiiin, terima kasih bu. kamampuan menulis sy masih amatiran. maklum dulunya kuliah Matematika jadi untuk menulis harus benar2 “kosentrai penuh” heeeee …….

  7. #13 by SITI FATIMAH AHMAD on 16 2010, 2010 - 10:01

    Salam aidil fitri. Selamat Hari Raya.

    membaca tulisan saudara, cukup memberi kesan ke dalam jiwa saya. anak-anak selalu beranggapan demikian tanpa mengetahui apa yang telah dikorbankan oleh kedua orang tuanya. Saya tidak menafikan rasa sunyi yang saudara hadapi saat itu. memang bosan sedangkan sepatutnya tidak demikian.

    namun kini semuanya diganjari Allah semula dengan menyatu kembali suasana yang hilang suatu ketika dulu. Semoga saudara dan keluarga semakin menyatu dan bahagia menyambut hari raya pada tahun mendatang.

    Salam mesra dari Sarawak.

    • #14 by bchree on 16 2010, 2010 - 10:12

      Salam aidil fitri. Selamat Hari Raya juga bu fatimah
      iya …. begitulah posisi anak2 dan kemampuan menanggapinya
      kita sebagai orang tua harus bisa melihat dari berbagai kacamata
      ….. terima kasih
      salam mesra dari Lumajang

  8. #15 by bintangzohra on 16 2010, 2010 - 09:22

    Aidul Fitri hari kemenangan, antara kita dan DIA, mengapa harus bosan?

    • #16 by bchree on 16 2010, 2010 - 09:27

      heeee … itu sy alami dulu saat masih kecil ……
      terutama saat duduk di sekolah dasar

  9. #17 by fitrimelinda on 16 2010, 2010 - 08:43

    Taqqabalallahu minna waminkum,shiyamana washiyamakum.
    Ja’alanallahu minal aidin wal faidzin.
    Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dari perjuangan ramadhan sbg orang yang menang..amiin
    Selamat Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir dan bathin..

    yang penting slalu bersyukur ya mas..

    • #18 by bchree on 16 2010, 2010 - 09:04

      Taqqabal yaa karim mbak fitri
      bener mbak kita harus selalu bersukur ….
      setiap saat dan setiap waktu WAJIB ingat kasih sayang-Nya

  10. #19 by Saipuddin on 15 2010, 2010 - 16:41

    allah tidak akan merubah nasib seseorang kecuali ia mau berusaha, dan hari ini harus lebih baik dari kemaren. Jangan menyerah sob,
    selamat lebaran bersama keluarga.

    • #20 by bchree on 15 2010, 2010 - 16:58

      benar mas, kita tidak boleh menyerah …..
      terima kasih sarannya

  11. #21 by indahnyahidupku on 15 2010, 2010 - 15:22

    apapun itu…bagaimanapun keadaannya…. syukurilah mas….
    dengan bersyukur insyaAllah semua akan terasa indah….
    dengan bersyukur…Allah berjanji akan menambah nikmat kita…. dan Allah tidak pernah ingkar janji…

    dan memang seharusnya kita sangat bersyukur…karna masih diberikan waktu dan kesempatan untuk kembali merasakan kemenangan yang hakiki di hari yang fitri ini..🙂

    taqabalallahu minna wa minkum….🙂

    • #22 by bchree on 15 2010, 2010 - 16:15

      terima kasih sarannya mbk indah …
      taqabal yaa karim

  12. #23 by isdiyanto on 15 2010, 2010 - 14:30

    mohon maaf lahir dan bathin juga,
    masri mulai kerja kembali dengan hati yang baru,
    dengan perilaku yang baru yang lebih B A I K . . . . .

    • #24 by bchree on 15 2010, 2010 - 16:14

      OK mas, mari lebih baik …..
      terima kasih kunjungganya!

  13. #25 by Usup Supriyadi on 15 2010, 2010 - 13:43

    salam
    menarik sekali kisahnya,
    semoga selalu dilimpahi rahmat oleh Allah
    jangan lupa untuk terus bersyukur dan bersabar…

    • #26 by bchree on 15 2010, 2010 - 16:13

      trims mas Usup
      …………………
      terima kasih juga atas sarannya
      Amiin

  14. #27 by Odie on 15 2010, 2010 - 10:42

    bagi beberapa kalangan, lebaran memang bermakna ganda…🙂
    Minal Aidin wal faidzin mas,…🙂

    • #28 by bchree on 15 2010, 2010 - 16:12

      Minal Aidin wal faidzin mas ordie ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: