bagai KYAI di KAMPUNG MALING

KIYAI di KAMPUNG MALING

B

agai KIYAI di KAMPUNG MALING merupakan kata kiyasan yang saya buat untuk  mengkiaskan keadaan di lingkungan kita sekarang. Perbuatan terpuji mulai luntur dengan sifat manusia yang mementingkan diri sendiri sibuk dengan perut dan hal-hal yang membuat dirinya “GEMUK” . Sikap mulia sudah menjadi rongsokan bekas yang tidak enak dipandang apa lagi dijual. Semakin hari memburuknya moral anak bangsa semakin jelas, bagai tailalat yang semakin mengrobol menodai di wajah cantik negeri ini. Berikut sepenggal cerita bukan fiktif yang pernah kami alami, semoga menjadi tambahan buat kita bercermin.

Setelah kami mempersiapkan diri selama satu tahun lamanya. Siang malam kami dan anak-anak mempersiapkan diri dengan pembinaan rutin. Banyaknya dana sudah tidak kami pedulikan, waktu bersama keluarga juga kami korbankan, sunyinya malam tidak terpedulikan karena larut dalam soal-soal, larut dalam memikirkan berbagai strategi yang harus di lakukan. Banyak toko buku sudah kami kunjungi untuk mencari referensi. Hujan panas tidak pernah kami pedulikan demi mengharumkan nama sekolah kami dan daerah kami.

Waktu lomba telah tiba, kami lakukan dengan penuh semangat, penuh harap, penuh do’a dari orang yang kami cintai dan mendukung kami. Kami yakin akan berhasil. Akhirnya, Allah mengabulkan do’a kami, kami menjadi salah satu JUARANYA.

PERANG sudah selesai ….. letih masih terasa …. Betapa terkejutnya kami sebagai orang kecil, ketika hanya ingin mendapatkan hak kami, berupa piala yang mungkin bagi KALIAN tidak berarti, namun bagi kami sebagai orang kecil merupakan UNTAIAN KATA SEMANGAT. Semakin kami memohon, malah semakin kami yang di salahkan. Kami dianggap orang tidak memiliki tatakrama, bukankan kami sudah mengutarakan melalui etika dalam lomba, kami juga menyampaikan permohonan melalui orang-orang yang berkeptingan (birokrasi). Kenapa,  kami yang disalahkan, bahkan Kami semakin disalahkan …….. atasan kami mengingatkan agar kami tidak memohon lagi!!! mukin bagi kami orang kecil tak pantas mendapatkan sesuatu selain harus terus berjuang tanpa harus berharap ……

Jangan kuatir bp birokrasi yang terhormat, kami bukan pecundang. Piala itu bukan tujuan kami …….. Kami tetap akan berprestasi, semua ini kami lakukan hanya mengingatkan anda agar tidak lupa saat berada di atas singa sana. Kami hanya ingin agar laknat Allah tidak datang pada negeri yang dipenuhi orang-orang durjana, semoga “penjenengan” semua sadar semua akan di tanyakan olehNYA.

Saya yakin anda juga pernah merasakan kenyataan yang membuat anda heran karena perbuatan baik anda malah di anggap salah oleh banyak orang??

Bagai KIYAI di KAMPUNG MALING merupakan kata kiyasan yang saya buat untuk  mengkiaskan keadaan di lingkungan kita sekarang. Perbuatan terpuji mulai luntur dengan sifat manusia yang mementingkan diri sendiri sibuk dengan perut dan hal-hal yang membuat dirinya “GEMUK” . Sikap mulia sudah menjadi rongsokan bekas yang tidak enak dipandang apa lagi dijual. Semakin hari memburuknya moral anak bangsa semakin jelas, bagai tailalat yang semakin mengrobol menodai di wajah cantik negeri ini.

Setelah kami mempersiapkan diri selama satu tahun lamanya. Siang malam kami dan anak-anak mempersiapkan diri dengan pembinaan rutin. Banyaknya dana sudah tidak kami pedulikan, waktu bersama keluarga juga kami korbankan, sunyinya malam tidak terpedulikan karena larut dalam soal-soal, larut dalam memikirkan berbagai strategi yang harus di lakukan. Banyak toko buku sudah kami kunjungi untuk mencari referensi. Hujan panas tidak pernah kami pedulikan demi mengharumkan nama sekolah kami dan daerah kami.

Waktu lomba telah tiba, kami lakukan dengan penuh semangat, penuh harap, penuh do’a dari orang kami cintai dan mendukung kami. Kami yakin akan berhasil. Akhirnya, Allah mengabulkan do’a kami, kami menjadi salah satu JUARANYA. PERANG sudah selesai ….. letih masih terasa …. Betapa terkejutnya kami sebagai orang kecil, hanya ingin mendapatkan hak kami berupa piala yang mungkin bagi KALIAN tidak berarti, namun bagi kami sebagai orang kecil merupakan UNTAIAN KATA SEMANGAT. Semakin kami memohon malah semakin kami yang di salahkan. Kami dianggap orang tidak memiliki tatakrama, bukankan kami sudah mengutarakan melalui etika dalam lomba, kami juga menyampaikan permohonan melalui orang-orang yang berkeptingan. Kenapa,  Kami semakin disalahkan …….. mukin bagi kami orang kecil tak pantas mendapatkan sesuatu selain harus terus berjuang tanpa harus berharap ……

Saya yakin anda juga pernah merasakan kenyataan yang membuat anda heran karena perbuatan baik anda malah di anggap salah oleh banyak orang??

  1. tiap tahun IDUL FITRI, MEMBOSANKAN!! « GURU pembawa perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: